PELATIHAN DIGITAL MARKETING DI JANHTO TUNTAS, DORONG DAYA SAING UMKM LOKAL
Peningkatan Keterampilan dan Akses Pasar Jadi Fokus Pengembangan Kawasan Transmigrasi
Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menutup rangkaian Pelatihan Digital Marketing di kawasan transmigrasi Kota Jantho setelah berlangsung selama sepekan, mulai 7 hingga 13 April 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di era ekonomi digital.
Baca Juga “5 Tren Digital Marketing Terbaru yang Wajib Dicoba Pelaku Usaha“
Kegiatan yang digelar di kompleks Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh Besar ini melibatkan sekitar 30 peserta dari masyarakat setempat. Pelatihan difokuskan pada penguasaan pemasaran digital, termasuk strategi promosi produk, fotografi, hingga desain kemasan yang menarik.
Kepala Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Pekanbaru, Ahmad Syahir, menegaskan bahwa peningkatan keterampilan masyarakat menjadi faktor utama dalam mendorong kemandirian ekonomi kawasan. Menurutnya, kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi syarat penting bagi daerah yang ingin maju.
Pelatihan digital marketing di kawasan Transmigrasi Jantho resmi ditutup, tingkatkan keterampilan pemasaran online bagi masyarakat lokal.
Ia menjelaskan bahwa digital marketing memberikan peluang besar bagi pelaku usaha di kawasan transmigrasi untuk memperluas jangkauan pasar. Produk lokal yang sebelumnya hanya dikenal di tingkat daerah kini berpotensi menembus pasar nasional melalui platform digital.
“Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi mampu berperan sebagai pelaku usaha yang aktif di pasar digital,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh Besar, Rahmawati, menilai potensi produk lokal di Kota Jantho cukup besar, terutama dari sektor pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, ia mengakui masih terdapat tantangan pada aspek pemasaran dan kualitas kemasan produk.
Menurutnya, banyak produk lokal yang memiliki kualitas baik, tetapi belum didukung strategi promosi yang efektif. Hal ini membuat daya saing produk menjadi terbatas, terutama ketika harus bersaing dengan produk dari luar daerah.
Rahmawati mendorong peserta untuk langsung menerapkan ilmu yang diperoleh selama pelatihan. Ia juga menekankan bahwa keterampilan digital marketing tidak hanya berguna bagi pelaku usaha, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk membantu memasarkan produk milik keluarga atau komunitas.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi. Tingkat pengangguran di Aceh Besar yang mencapai sekitar 6,95 persen menjadi alasan kuat perlunya dorongan untuk menciptakan wirausahawan baru.
“Ke depan, pelatihan seperti ini diharapkan mampu melahirkan pelaku usaha yang mandiri dan mampu membuka lapangan kerja, meskipun dimulai dari skala kecil,” katanya.
Program ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga pelatihan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan pendekatan yang tepat, kawasan transmigrasi dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Sebagai tambahan, tren digitalisasi UMKM di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pemanfaatan platform digital dinilai mampu meningkatkan efisiensi pemasaran sekaligus memperluas akses pasar, terutama bagi pelaku usaha di daerah.
Dengan berakhirnya pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan keterampilan yang diperoleh secara nyata. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan individu, tetapi juga memperkuat ekonomi kawasan transmigrasi secara keseluruhan.
Ke depan, program serupa diproyeksikan akan terus dikembangkan dengan materi yang lebih inovatif dan relevan. Pemerintah daerah menargetkan kawasan transmigrasi seperti Jantho dapat menjadi model pengembangan ekonomi berbasis keterampilan dan teknologi di tingkat regional.
Baca Juga “Dari Mahasiswa Jadi Ahli Digital Marketing, Ini Strategi yang Disiapkan Universitas Nusa Mandiri“
