Kenaikan Biaya Platform E-Commerce Tekan Penjual dan Picu Kekhawatiran Konsumen
Persaingan industri e-commerce memasuki fase baru setelah sejumlah platform besar mulai menaikkan biaya layanan bagi penjual. Kebijakan tersebut memicu keluhan dari pelaku usaha online karena dinilai semakin menekan margin keuntungan di tengah persaingan harga yang ketat.
Baca Juga “Penyelenggaraan Pelatihan Digital Entrepreneurship Academy DTS Tahun 2021“
Dalam beberapa hari terakhir, komunitas bisnis online ramai membahas penyesuaian biaya yang dilakukan sejumlah platform seperti Shopee, Lazada, dan TikTok Shop.
Langkah tersebut dinilai menandai perubahan strategi industri e-commerce yang kini lebih fokus pada efisiensi bisnis dan optimalisasi pendapatan dibanding strategi subsidi besar-besaran seperti beberapa tahun terakhir.
Lazada, Shopee, dan TikTok Shop Kompak Naikkan Biaya
Berdasarkan pengumuman terbaru, Lazada mulai menaikkan biaya pemrosesan pesanan dari 5 persen menjadi 6 persen termasuk PPN mulai 26 Mei 2026.
Platform tersebut juga memberlakukan biaya infrastruktur tambahan sebesar 3.000 VND untuk setiap pesanan yang berhasil dikirim.
Sementara itu, Shopee menyesuaikan biaya layanan paket Voucher Xtra dari 4 persen menjadi 5,5 persen dari nilai produk dengan batas maksimal 50.000 VND per produk.
Biaya layanan PiShip juga naik dari 1.620 VND menjadi 2.700 VND per pesanan.
TikTok Shop turut menaikkan biaya komisi di sebagian besar kategori produk. Besaran komisi baru berkisar antara 9 persen hingga 17,8 persen tergantung jenis produk dan kategori toko.
Selain komisi utama, penjual juga masih harus menanggung biaya iklan, pengiriman, voucher promosi, hingga layanan dukungan pelanggan.
Total Biaya Penjualan Bisa Tembus 45 Persen
Sejumlah pelaku usaha online menyebut total biaya operasional di platform kini semakin besar.
Jika seluruh komponen dihitung, mulai dari biaya platform, iklan, voucher, pengiriman, pajak, hingga pengembalian barang, total pengeluaran dapat mencapai 40 persen hingga 45 persen dari pendapatan per pesanan.
Kondisi tersebut membuat margin keuntungan penjual semakin tipis, terutama bagi usaha kecil dan menengah yang bergantung pada penjualan online.
Banyak penjual mengaku kesulitan mempertahankan harga produk karena kenaikan biaya terus terjadi di berbagai sisi operasional.
Pelaku UMKM Mengaku Sulit Bertahan
Sejumlah pemilik toko online mulai menyampaikan keluhan terkait tekanan bisnis yang semakin berat.
Seorang penjual pakaian di Hanoi bernama Ibu Huong mengaku belum pernah menghadapi tekanan usaha sebesar sekarang.
Sebelumnya, produk impor dengan harga modal sekitar 150.000 hingga 200.000 VND masih dapat dijual dengan margin keuntungan cukup baik.
Namun kini, selain membayar biaya platform, penjual juga harus mengeluarkan dana tambahan untuk iklan, promosi, dan subsidi pengiriman agar produk tetap terlihat di platform.
“Ada pesanan yang dikembalikan pelanggan atau mendapat diskon besar sehingga toko hampir tidak mendapat keuntungan,” ujarnya.
Untuk bertahan, banyak produk di tokonya akhirnya dinaikkan sekitar 70.000 hingga 100.000 VND per item dalam beberapa bulan terakhir.
Tidak Hanya Fesyen, Banyak Sektor Ikut Terdampak
Tekanan biaya tidak hanya dirasakan penjual fesyen. Pelaku usaha kosmetik, perlengkapan rumah tangga, hingga aksesori elektronik juga melaporkan kondisi serupa.
Menurut mereka, tantangan bukan hanya berasal dari biaya yang meningkat, tetapi juga dari munculnya pengeluaran tambahan yang sulit diprediksi.
Banyak pelaku usaha mulai mempertimbangkan untuk mengecilkan bisnis atau beralih ke kanal penjualan lain seperti website mandiri, Facebook, Zalo, hingga platform live streaming independen.
Sebagian penjual bahkan mengaku menghadapi dilema antara tetap bertahan meski rugi atau meninggalkan platform e-commerce sepenuhnya.
Ribuan Penjual Disebut Tinggalkan Platform E-Commerce
Data dari platform analisis pasar Metric menunjukkan sekitar 165.000 vendor meninggalkan platform e-commerce besar dalam satu tahun terakhir.
Angka tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan persaingan yang dihadapi pelaku usaha kecil di pasar online.
Banyak penjual merasa ketergantungan terhadap algoritma platform membuat bisnis mereka semakin sulit berkembang secara mandiri.
Visibilitas produk kini tidak hanya ditentukan kualitas barang, tetapi juga kemampuan penjual membayar iklan dan mengikuti program promosi platform.
Konsumen Mulai Khawatir Harga Barang Online Naik
Tidak hanya penjual, konsumen juga mulai merasakan dampak kenaikan biaya di platform e-commerce.
Selama bertahun-tahun, belanja online menjadi pilihan utama karena menawarkan harga lebih murah dan banyak promo gratis ongkir maupun voucher diskon.
Namun kini, banyak pelanggan mulai melihat harga produk online meningkat dibanding sebelumnya.
Seorang konsumen di Hanoi bernama Ibu Thu Trang mengaku harga berbagai produk kosmetik dan kebutuhan rumah tangga mulai naik cukup signifikan.
“Dulu saya membeli pembersih wajah sekitar 180.000 VND setelah diskon. Sekarang harganya bisa mencapai 210.000 hingga 220.000 VND,” katanya.
Menurut banyak konsumen, jika biaya platform terus meningkat, tambahan biaya tersebut pada akhirnya akan dibebankan langsung kepada pembeli.
Platform Tetap Beri Promo untuk Jaga Aktivitas Belanja
Meski menaikkan biaya layanan, platform e-commerce tetap menjalankan berbagai program promosi untuk mempertahankan aktivitas transaksi.
Shopee masih mempertahankan program Freeship Xtra dan voucher kerja sama. TikTok Shop terus mengembangkan fitur live streaming dan kolaborasi dengan kreator konten.
Sementara Lazada memperkuat layanan periklanan dan solusi pemasaran digital bagi penjual.
Platform juga rutin menggelar kampanye belanja besar seperti 6.6, 7.7, 8.8, hingga promo akhir tahun untuk menjaga minat konsumen.
Namun banyak pelaku usaha menilai program tersebut belum cukup menutupi kenaikan biaya yang mereka tanggung.
Persaingan E-Commerce Diperkirakan Semakin Ketat
Industri e-commerce saat ini memasuki fase baru yang lebih menitikberatkan keberlanjutan bisnis dibanding strategi ekspansi agresif berbasis subsidi.
Perubahan tersebut membuat pelaku usaha harus semakin adaptif dalam mengelola operasional dan strategi penjualan.
Banyak penjual kini mulai menerapkan strategi multi-channel dengan menggabungkan marketplace, media sosial, dan website mandiri untuk mengurangi ketergantungan pada satu platform.
Jika tren kenaikan biaya terus berlanjut, tekanan terhadap penjual maupun konsumen diperkirakan akan semakin besar dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga “Siapkan Aturan buat e-Commerce, Pemerintah Soroti Market Abuse-Biaya Seller Naik“
