Fri. May 15th, 2026

UKM Mulai Bangun Website Sendiri, Pakar Ingatkan Risiko Serangan Siber Meningkat

Perubahan strategi bisnis digital membuat banyak pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mulai meninggalkan platform e-commerce dan membangun website mandiri. Langkah ini dilakukan setelah meningkatnya biaya operasional, termasuk ongkos logistik dan potongan layanan yang dinilai membebani penjual.

Dengan memiliki website sendiri, UKM dapat mengatur sistem penjualan secara lebih fleksibel dan membangun hubungan langsung dengan pelanggan. Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan baru terkait keamanan digital yang sering kali belum dipahami pelaku usaha kecil.

Pakar keamanan siber mengingatkan bahwa website bisnis mandiri tanpa perlindungan memadai dapat menjadi target empuk serangan hacker dan pencurian data pelanggan.

baca juga”Ide Bisnis Online di Desa, Peluang Cuan dari Kampung

UKM Dinilai Rentan Jadi Sasaran Hacker

CTO Prosperita Group, Yudhi Kukuh, mengatakan masih banyak pelaku UKM yang menganggap serangan siber hanya mengincar perusahaan besar atau institusi keuangan.

Menurutnya, pola pikir tersebut tidak lagi relevan karena sebagian besar serangan digital saat ini dilakukan secara otomatis menggunakan bot yang menyisir internet tanpa memilih target tertentu.

“Peretas tidak selalu mencari perusahaan besar. Mereka mencari sistem yang lemah dan mudah ditembus,” kata Yudhi di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan website bisnis kecil yang jarang diperbarui justru lebih mudah diserang karena memiliki banyak celah keamanan yang tidak ditangani.

Website Tanpa Pemeliharaan Jadi Celah Keamanan

Yudhi menilai salah satu kesalahan umum UKM adalah berhenti melakukan pemeliharaan setelah website selesai dibuat oleh pihak ketiga.

Banyak pelaku usaha hanya fokus pada tampilan dan fungsi awal website tanpa memperhatikan pembaruan sistem, plugin, maupun patch keamanan secara berkala.

Padahal, website yang tidak diperbarui dalam jangka panjang sangat rentan disusupi malware, pencurian data, hingga serangan ransomware.

Menurut Yudhi, kondisi tersebut membuat hacker lebih mudah mencuri informasi pelanggan seperti nama, nomor telepon, alamat email, hingga data transaksi.

Data Pelanggan UKM Punya Nilai di Pasar Gelap

Meski berasal dari toko online kecil, data pelanggan tetap memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar gelap digital.

Data tersebut kerap digunakan pelaku kejahatan untuk menjalankan aksi phishing, penipuan online, hingga pengambilalihan akun perbankan digital.

Karena itu, serangan terhadap UKM kini tidak lagi sekadar gangguan teknis, tetapi dapat berdampak langsung pada reputasi dan keberlangsungan bisnis.

Yudhi menilai kebocoran data pelanggan bisa membuat kepercayaan konsumen menurun drastis, terutama bagi bisnis yang sedang berkembang.

Serangan Ransomware Bisa Lumpuhkan Bisnis Kecil

Selain pencurian data, serangan ransomware juga menjadi ancaman serius bagi UKM yang mengelola website sendiri.

Dalam serangan ini, hacker mengunci seluruh data bisnis dan meminta tebusan agar sistem dapat digunakan kembali.

Menurut Yudhi, banyak UKM tidak memiliki tim IT internal maupun sistem backup yang memadai sehingga kesulitan memulihkan operasional setelah terkena serangan.

“Jika seluruh data transaksi dan stok barang terkunci, bisnis bisa lumpuh total dalam waktu singkat,” ujarnya.

Kondisi tersebut dapat memaksa pelaku usaha memulai bisnis dari awal karena kehilangan histori transaksi dan data pelanggan.

Pakar Sarankan UKM Terapkan Keamanan Berlapis

Untuk mengurangi risiko serangan siber, Yudhi menyarankan pelaku UKM menerapkan sistem keamanan digital secara berlapis.

Langkah dasar yang dinilai penting antara lain rutin memperbarui sistem website, menggunakan password kuat, serta mengaktifkan autentikasi dua faktor pada akun bisnis.

Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan anti-malware pada perangkat yang dipakai untuk mengelola bisnis online, terutama ponsel yang sering digunakan untuk transaksi dan komunikasi pelanggan.

Menurutnya, serangan melalui file APK palsu kini semakin sering terjadi dan banyak menyasar pengguna perangkat mobile.

Backup Data Jadi Langkah Penting untuk UKM

Selain perlindungan sistem, Yudhi menekankan pentingnya melakukan backup data secara berkala.

Cadangan data dinilai menjadi solusi paling efektif untuk mengurangi dampak kerugian apabila website mengalami serangan ransomware atau kerusakan sistem.

Dengan backup rutin, pelaku usaha dapat memulihkan operasional lebih cepat tanpa kehilangan seluruh data penting bisnis.

Proses backup juga sebaiknya dilakukan di lokasi terpisah, termasuk cloud storage yang memiliki sistem keamanan memadai.

Edukasi Keamanan Digital Dinilai Semakin Penting

Yudhi menilai keamanan digital kini harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar biaya tambahan.

Pelaku UKM perlu memahami dasar keamanan siber agar tidak mudah menjadi korban penipuan digital maupun serangan malware.

Ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan, email palsu, dan file tidak dikenal yang sering digunakan pelaku kejahatan siber.

“Jangan menunggu sistem lumpuh baru sadar pentingnya keamanan digital,” kata Yudhi.

Website Mandiri Beri Peluang Besar bagi UKM

Meski memiliki tantangan keamanan, website mandiri tetap memberikan peluang besar bagi UKM untuk mengembangkan bisnis secara lebih independen.

Dengan website sendiri, pelaku usaha dapat mengontrol branding, data pelanggan, hingga strategi pemasaran tanpa bergantung penuh pada platform marketplace.

Namun, pertumbuhan bisnis digital juga harus diimbangi kesiapan keamanan agar operasional tetap aman dan kepercayaan pelanggan dapat terjaga dalam jangka panjang.

baca juga”Tekan Kemiskinan, MIND ID Bina 10 Ribu UMKM Lebih

By setnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *