Nasib akun media sosial milik orang yang telah meninggal sering memicu perdebatan. Sebagian keluarga memilih membiarkannya sebagai ruang kenangan digital, sementara yang lain meminta akses untuk menutup atau mengelolanya. Di tengah dilema itu, Meta sempat mempertimbangkan pendekatan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Seperti dilaporkan Business Insider dan dikutip detikINET, Meta memperoleh hak paten pada 2023 untuk teknologi yang memungkinkan model bahasa besar atau large language model (LLM) mensimulasikan aktivitas pengguna di media sosial. Sistem ini dirancang agar akun tetap terlihat aktif, bahkan ketika pemiliknya sudah tidak lagi menggunakan platform tersebut.
Dalam dokumen paten, Meta menjelaskan bahwa model bahasa dapat digunakan untuk mensimulasikan pengguna saat mereka absen dari sistem jejaring sosial. Kondisi absen itu mencakup rehat panjang maupun situasi ketika pengguna telah meninggal dunia. Nama CTO Meta, Andrew Bosworth, tercantum sebagai penulis utama dalam dokumen tersebut.
Baca juga “VIDEO: Spanyol Akan Larang Medsos Bagi Anak di Bawah Umur 16 Tahun“
Teknologi ini memungkinkan kloning digital berinteraksi melalui fitur seperti like, komentar, dan pesan langsung. Dengan memanfaatkan riwayat unggahan, gaya bahasa, dan pola interaksi, AI dapat menghasilkan konten baru yang menyerupai karakter asli pengguna. Secara teknis, pendekatan ini sejalan dengan perkembangan LLM yang mampu meniru gaya komunikasi berbasis data historis.
Namun, Meta kini menegaskan tidak akan melanjutkan konsep tersebut. Seorang juru bicara perusahaan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk menerapkan contoh yang tercantum dalam paten itu. Pernyataan ini menunjukkan adanya evaluasi ulang terhadap implikasi etis dan sosial dari teknologi tersebut.
Meski dibatalkan, keberadaan paten tersebut memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi besar terus mengeksplorasi pemanfaatan AI. Dalam beberapa tahun terakhir, Meta memang agresif mengintegrasikan AI ke dalam produk mereka, mulai dari chatbot hingga alat pembuat konten otomatis.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, sebelumnya juga menyinggung potensi AI sebagai teman virtual. Dalam wawancara tahun 2023 dengan podcaster Lex Fridman, ia menyatakan bahwa avatar virtual mungkin dapat membantu orang yang sedang berduka dengan menghadirkan kembali kenangan tertentu. Pernyataan itu memicu diskusi tentang batas antara inovasi teknologi dan sensitivitas emosional.
Gagasan menghidupkan kembali aktivitas digital orang yang telah meninggal menuai respons kritis dari kalangan akademisi. Profesor sosiologi Universitas Virginia, Joseph Davis, menilai bahwa proses berduka mengharuskan seseorang menghadapi kenyataan kehilangan. Ia menegaskan bahwa membiarkan orang yang telah meninggal tetap menjadi bagian dari kenangan, bukan simulasi aktif, merupakan bagian penting dari kesehatan emosional.
Di sisi lain, sejumlah platform digital sudah memiliki kebijakan terkait akun pengguna yang wafat. Beberapa menyediakan fitur memorialisasi, yang mengunci akun namun tetap memungkinkan keluarga dan teman meninggalkan pesan kenangan. Pendekatan ini dianggap lebih menghormati privasi sekaligus menjaga jejak digital tanpa menciptakan representasi baru berbasis AI.
Perdebatan ini juga menyentuh isu perlindungan data. Penggunaan riwayat unggahan untuk melatih model AI menimbulkan pertanyaan tentang persetujuan, kepemilikan data, dan hak digital setelah kematian. Regulasi perlindungan data di berbagai negara belum sepenuhnya mengatur secara spesifik soal penggunaan data orang yang telah meninggal untuk pelatihan AI.
Ke depan, inovasi AI kemungkinan akan terus bersinggungan dengan aspek kehidupan yang sangat personal. Perusahaan teknologi perlu menyeimbangkan potensi komersial dengan pertimbangan etika dan dampak psikologis. Transparansi, persetujuan yang jelas, serta regulasi yang adaptif menjadi kunci agar pemanfaatan AI tetap bertanggung jawab.
Kasus paten Meta ini menunjukkan bahwa tidak semua inovasi teknis layak diterapkan. Dalam konteks duka dan kenangan, pendekatan yang hati-hati dan berempati menjadi lebih penting daripada sekadar kemampuan teknologi untuk meniru manusia.
Baca Juga “Setelah Marketplace, Pemerintah Bakal Incar Pajak dari Media Sosial“
