Mon. Jul 27th, 2026

IMDE Bekali Mahasiswa Strategi Membuat Konten Viral dan Meningkatkan Views di Media Sosial

Di tengah pesatnya perkembangan industri digital, kemampuan mengelola media sosial tidak lagi sekadar menjadi keterampilan tambahan. Penguasaan strategi konten, pemahaman perilaku audiens, hingga kemampuan membaca tren digital kini menjadi bekal penting bagi calon praktisi media dan kreator konten.

Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi D4 Produksi Media Institut Media Digital Emtek (IMDE) menyelenggarakan kuliah praktisi untuk mata kuliah Social Media Strategy pada Selasa, 9 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan praktisi industri Oka Pangestu dan Hasanul Bana, Co-Founder BukanCumaPosting, yang membagikan pengalaman serta strategi membangun konten digital yang mampu berkembang secara organik.

Kuliah yang dipandu oleh dosen pengampu Rifa Yusya Adilah ini memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai cara menyusun konten yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memiliki nilai dan dampak bagi audiens.

baca juga”Manfaat Digital Marketing Agency untuk Promosi Bisnis

Strategi Konten Viral Berawal dari Memahami Kebutuhan Audiens

Dalam sesi pembelajaran, Oka Pangestu menjelaskan bahwa menciptakan konten dengan jumlah tayangan tinggi memiliki kesamaan dengan konsep Ikigai dari Jepang, yaitu menemukan titik temu antara minat pribadi dan kebutuhan banyak orang.

Menurutnya, kreator perlu beralih dari pola pikir sekadar membagikan aktivitas pribadi menjadi menciptakan konten yang mampu menjawab persoalan, rasa ingin tahu, atau kebutuhan audiens.

Untuk membantu proses tersebut, Oka memperkenalkan metode FLSR (Finding, Listing, Sorting, Recreating). Framework ini merupakan pengembangan dari konsep ATM atau Amati, Tiru, Modifikasi yang lebih menekankan proses analisis sebelum membuat konten.

Tahap Finding dilakukan dengan mencari referensi konten atau akun yang memiliki performa terbaik sesuai dengan bidang yang ingin dikembangkan. Selanjutnya, kreator melakukan Listing dengan mengumpulkan dan mengurai berbagai elemen konten, mulai dari visual, audio, naskah, gaya penyampaian, hingga topik yang diangkat.

Tahap berikutnya adalah Sorting, yaitu memilih konten dengan performa terbaik untuk dianalisis lebih dalam. Konten yang telah dipilih kemudian masuk ke tahap Recreating, yakni mengembangkan ulang ide tersebut menggunakan karakter dan keunikan pribadi agar tetap autentik serta tidak menjadi bentuk plagiarisme.

“Ketika ada konten yang berhasil mendapatkan jutaan hingga puluhan juta views, kita perlu memahami alasan konten tersebut diterima pasar dan bagaimana pola keberhasilannya bisa diterapkan dengan cara yang berbeda,” jelas Oka.

Teknik Membuat Hook Kuat agar Audiens Berhenti Melakukan Scrolling

Hasanul Bana menyoroti pentingnya tiga detik pertama dalam sebuah video pendek. Menurutnya, persaingan perhatian di era banjir informasi membuat kreator harus mampu menciptakan pembuka atau hook yang dapat menghentikan kebiasaan pengguna untuk terus menggulir layar.

Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga elemen utama yang harus diperhatikan pada awal video, yaitu visual, audio, dan teks. Kombinasi ketiganya menjadi faktor awal yang menentukan apakah audiens akan melanjutkan menonton atau meninggalkan konten.

Selain hook, Hasan juga memperkenalkan struktur winning content yang terdiri dari Start With Hook, Build Tension, Reveal The Solution, dan diakhiri dengan Call To Value.

Pada tahap membangun ketegangan atau tension, kreator dapat menghadirkan konflik, perbandingan yang kontras, atau elemen cliffhanger agar rasa penasaran audiens tetap terjaga hingga akhir video.

Setelah perhatian audiens berhasil dipertahankan, kreator perlu memberikan solusi atau informasi yang menjadi jawaban dari permasalahan yang diangkat dalam konten. Konten kemudian ditutup dengan ajakan yang memberikan manfaat atau nilai kepada penonton.

“Fokus pada tiga unsur utama di tiga detik pertama, yaitu visual, audio, dan teks. Ketiga elemen itu harus mampu menarik perhatian audiens sejak awal,” ujar Hasan.

Pemanfaatan AI dan Praktik Industri Jadi Bekal Mahasiswa IMDE

Tidak hanya mendapatkan teori, mahasiswa IMDE juga mengikuti sesi analisis konten secara langsung bersama para praktisi. Pada sesi tersebut, mahasiswa mempelajari cara mengevaluasi kekuatan dan kelemahan sebuah konten serta memanfaatkan berbagai perangkat pendukung, termasuk teknologi kecerdasan buatan atau AI, untuk meningkatkan efisiensi proses produksi.

Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam berbagi ilmu dan pengalaman industri, IMDE memberikan sertifikat penghargaan kepada Oka Pangestu dan Hasanul Bana. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Program Studi D4 Produksi Media IMDE, Teguh Setiawan, bersama dosen pengampu Social Media Strategy, Rifa Yusya Adilah.

Teguh menegaskan bahwa penguasaan strategi media sosial telah menjadi kompetensi yang wajib dimiliki oleh calon pekerja industri kreatif dan media digital. Melalui kolaborasi dengan praktisi industri, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mampu membuat konten yang menarik, tetapi juga memahami strategi yang membuat sebuah konten berhasil menjangkau audiens. Kehadiran praktisi memberikan perspektif nyata yang melengkapi pembelajaran di kelas,” ujar Teguh.

Melalui kuliah praktisi ini, IMDE menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan industri digital. Dengan pemahaman strategi media sosial, analisis audiens, dan pemanfaatan teknologi terbaru, mahasiswa diharapkan memiliki kesiapan lebih baik untuk menghadapi tantangan dunia kreatif yang semakin kompetitif.

baca juga”Anggaran Perjalanan Dinas Hemat Rp 1,94 T Berkat Kebijakan Transformasi Budaya Kerja

By setnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *