Jenius Matematika China Tolak MIT dan Memilih Menjadi Biksu
Liu Zhiyu pernah menjadi salah satu jenius matematika paling menonjol di China. Ia meraih medali emas Olimpiade Matematika Internasional (IMO) dengan nilai sempurna pada 2006.
Prestasi tersebut membuka jalan bagi Liu untuk menempuh pendidikan di Peking University. Ia kemudian memperoleh tawaran pendidikan dengan pendanaan penuh dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat.
Namun, Liu memilih jalan yang berbeda. Ia meninggalkan dunia akademik dan memutuskan menjalani kehidupan sebagai biksu Buddha.
Kini, perjalanan hidup Liu kembali berubah. Setelah meninggalkan kehidupan monastik, ia menikah dan memiliki seorang anak. Liu kemudian membangun bisnis berbasis psikologi dan kebudayaan tradisional China melalui livestreaming serta kursus daring.
Dari Peraih Emas IMO hingga Menolak Beasiswa MIT
Liu Zhiyu menunjukkan kemampuan matematika sejak usia muda
Liu lahir di Wuhan, China, dan memperlihatkan kemampuan matematika yang luar biasa sejak masih muda. Bakat tersebut membawanya mengikuti kompetisi matematika tingkat internasional.
Baca Juga “Bukan Cuma Jualan Online, Begini Cara Konten dan LIVE Dongkrak Bisnis F&B Lokal“
Pada 2006, Liu meraih medali emas IMO dengan nilai sempurna. Pencapaian itu memperkuat reputasinya sebagai salah satu talenta matematika kerja terus beradaptasi. Menurut Liu, seseorang terkadang harus ikut bergerak ketika banyak berdasarkan nilai tukar yang disebutkan dalam laporan. Liu bahkan pernah menganggap tidur di bawah jembatan bukan melalui livestreaming mendapat berbagai tanggapan dari warganet. Sebagian mempertanyakan langkah seorang mantan jenius matematika dan biksu yang kinijaannya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan masa lalu. Ia menilai menjual produk merupakan pekerjaan yang sah selama produk tersebut dipilih dengan cermat dan memberikan akademik di institusi seperti MIT, Liu memilih kehidupan monastik. Setelah meninggalkan kehidupan tersebut, ia seluruh arah kehidupan seseorang. Keputusan pribadi, keluarga, nilai hidup, dan kondisi ekonomi masyarakat pada 2022. Ia kemudian mempelajari psikologi dan membangun bisnis melalui livestreaming, kursus daring, saat ini. Ia menilai pekerjaannya memiliki makna karena sesuai dengan minat yang ingin ia jalani arah hidup yang tidak biasa. Dari kompetisi matematika internasional, kehidupan sebagai biksu, hingga bisnis digital, ia kini memilih membangun kehidupan berdasarkan kebutuhan keluarga dan muda China.
Setelah prestasi tersebut, Liu mendapat kesempatan masuk langsung ke program studi matematika Peking University. Kampus tersebut termasuk salah satu institusi pendidikan tinggi paling bergengsi di China.
Karier akademiknya juga berpotensi berlanjut ke Amerika Serikat. MIT menawarkan kesempatan pendidikan dengan pendanaan penuh kepada Liu.
Namun, Liu tidak mengambil kesempatan tersebut. Ia justru memilih meninggalkan jalur akademik dan memasuki kehidupan monastik sebagai biksu Buddha.
Kehidupan sebagai biksu berakhir pada 2022
Liu menjalani kehidupan sebagai biksu selama beberapa tahun. Pada 2022, ia secara resmi meninggalkan kehidupan monastik dan kembali menjalani kehidupan sebagai masyarakat umum.
Setelah itu, Liu mulai mendalami psikologi. Ia kemudian melihat peluang untuk menggabungkan pengetahuan tersebut dengan kebudayaan tradisional China.
Pada 2023, Liu mulai membangun bisnis sendiri melalui livestreaming dan kursus daring. Aktivitas tersebut menjadi awal perubahan besar dalam kehidupan profesionalnya.
Pada tahun yang sama, Liu menikah. Ia dan istrinya kemudian menyambut kelahiran seorang putra pada 2024.
Mantan Jenius Matematika Ini Kini Bekerja Lebih dari 10 Jam Sehari
Liu mengubah apartemen kecil menjadi studio livestreaming
Menurut laporan The Paper yang dikutip VN Express, Liu kini bekerja dari sebuah apartemen di Beijing. Tempat tersebut memiliki luas kurang dari 30 meter persegi dan berfungsi sebagai studio kerja.
Rutinitas Liu dimulai sekitar pukul 07.00 hingga 08.00. Ia kemudian memulai livestreaming sekitar pukul 09.00.
Liu biasanya beristirahat dan makan selama sekitar tiga jam pada siang hari. Setelah itu, ia kembali bekerja hingga sekitar pukul 21.00.
Dengan pola tersebut, waktu kerja Liu dapat mencapai lebih dari 10 jam setiap hari. Aktivitasnya juga tidak sebatas tampil di depan kamera.
Ia harus menentukan topik konten, memeriksa naskah, merekam materi kursus, serta mengelola karyawan. Liu juga mengadakan lokakarya psikologi secara langsung.
Liu mengakui bahwa ia belum dapat mengurangi beban kerja tersebut. Bisnis yang dibangunnya masih berada dalam tahap pengembangan.
“Seluruh industri internet memiliki budaya persaingan yang sangat keras. Jika Anda tidak bergerak maju, Anda akan tertinggal,” ujar Liu kepada The Paper pada September.
Ia juga mengatakan persaingan tersebut membuat pelaku bisnis harus terus beradaptasi. Menurut Liu, seseorang terkadang harus ikut bergerak ketika banyak orang berusaha meningkatkan posisi mereka.
Bisnis Liu Belum Membuatnya Kaya, tetapi Mulai Stabil
Livestreaming menjadi sumber penghasilan baru bagi keluarga
Perjalanan Liu sebagai pengusaha tidak langsung menghasilkan keuntungan besar. Pada masa awal bisnis, kondisi keuangannya bahkan cukup terbatas.
Liu dan istrinya pernah tinggal di apartemen yang kemudian mereka ubah menjadi studio. Ia juga melakukan livestreaming pertama dari kamar tidur mertuanya.
Saat itu, Liu hanya menggunakan latar dan meja sederhana untuk menjalankan aktivitas siaran langsung. Setelah sekitar tiga tahun membangun bisnis, kondisinya mulai berubah.
Liu mengatakan bisnis tersebut memang belum membuatnya kaya. Namun, usaha itu setidaknya sudah berhenti mengalami kerugian.
Kini, Liu dan istrinya tinggal bersama putra mereka di apartemen sewaan dengan dua kamar tidur. Tempat tinggal lama mereka sepenuhnya digunakan sebagai studio.
Kehadiran anak mengubah cara Liu memandang uang
Pernikahan dan kelahiran anak turut mengubah pandangan Liu mengenai kebutuhan finansial. Sebelumnya, ia merasa dapat bertahan hidup dengan pengeluaran sekitar 1.000 yuan per bulan.
Jumlah tersebut setara sekitar US$140 atau sekitar Rp2 jutaan berdasarkan nilai tukar yang disebutkan dalam laporan. Liu bahkan pernah menganggap tidur di bawah jembatan bukan persoalan besar jika berada dalam kondisi paling sulit.
Pandangan tersebut berubah setelah ia memiliki keluarga. Menurut Liu, kebutuhan keluarga membuat penghasilan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
“Menghidupi keluarga membutuhkan uang. Anda harus membeli bahan makanan, memasak, dan makan dengan lebih baik,” ujar Liu.
Perubahan tersebut menunjukkan perbedaan antara kebutuhan hidup ketika seseorang hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan ketika ia memiliki keluarga.
Liu Menanggapi Kritik karena Menjual Kursus dan Produk
Ia menganggap bisnis sebagai cara untuk mempertahankan pekerjaannya
Keputusan Liu mencari penghasilan melalui livestreaming mendapat berbagai tanggapan dari warganet. Sebagian mempertanyakan langkah seorang mantan jenius matematika dan biksu yang kini menjual kursus serta produk secara daring.
Liu tidak melihat pekerjaannya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan masa lalu. Ia menilai menjual produk merupakan pekerjaan yang sah selama produk tersebut dipilih dengan cermat dan memberikan manfaat bagi konsumen.
Dalam wawancara dengan Jimu News pada Agustus, Liu menjelaskan pandangannya mengenai hubungan antara membantu orang lain dan mencari penghasilan.
“Jika kita dengan tulus ingin membantu orang lain, kita juga perlu mencari nafkah dan membuat pekerjaan kita berkelanjutan,” kata Liu.
Baca Juga “‘Bisnis Online Cuma Butuh Komitmen’“
