Pelaku UMKM di Tepus Gunungkidul Mulai Kuasai Pemasaran Online Lewat Marketplace
Puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalurahan Sidoharjo, Tepus, Gunungkidul mulai belajar memasarkan produk melalui platform digital. Langkah ini dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di tengah pertumbuhan ekonomi digital.
Pelatihan digital marketing tersebut difasilitasi oleh Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Gunungkidul atau Disdagnaker Gunungkidul bekerja sama dengan salah satu marketplace nasional. Program ini menyasar pelaku UMKM yang selama ini masih mengandalkan pemasaran tradisional dan jaringan pertemanan untuk menjual produk mereka.
Baca Juga “Perketat akuntabilitas platform digital dalam menghadapi gelombang barang palsu daring.“
Kepala Disdagnaker Gunungkidul, Kelik Yuniantoro mengatakan jumlah pelaku UMKM di Gunungkidul terus bertambah setiap tahun. Namun, belum semua pelaku usaha mampu memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pemasaran yang efektif.
Menurut Kelik, perkembangan platform marketplace dan media sosial membuka peluang besar bagi UMKM untuk menjangkau konsumen lebih luas tanpa harus membuka toko fisik di berbagai daerah. Karena itu, pemerintah daerah mulai mendorong pelaku usaha lokal agar mampu beradaptasi dengan perubahan pola perdagangan digital.
Pelatihan Digital Marketing Dorong UMKM Go Digital
Pelatihan yang digelar di Sidoharjo tidak hanya berfokus pada teori pemasaran digital. Peserta juga mendapatkan pendampingan mengenai cara membuka toko online, mengunggah produk, membuat deskripsi menarik, hingga memanfaatkan fitur promosi di marketplace.
Disdagnaker berharap pelaku usaha dapat memahami cara menjalankan bisnis online secara mandiri dan berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai penting karena banyak UMKM di wilayah Tepus sebenarnya memiliki produk potensial, namun belum memiliki akses pemasaran yang luas.
Kelik menjelaskan bahwa program tersebut tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata. Pemerintah daerah akan melakukan monitoring dan pendampingan berkala agar materi yang diberikan benar-benar diterapkan dalam aktivitas usaha sehari-hari.
“Kami tidak hanya melaksanakan pelatihan, tetapi juga memastikan hasilnya bisa direalisasikan oleh peserta,” ujarnya.
Pendampingan tersebut mencakup evaluasi perkembangan toko online peserta, strategi promosi digital, hingga penguatan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar nasional.
Mayoritas Pelaku UMKM Masih Andalkan Penjualan Konvensional
Lurah Sidoharjo, Evi Nurcahyani menyebut sebagian besar pelaku UMKM di wilayahnya masih memasarkan produk secara sederhana. Banyak warga hanya mengandalkan relasi keluarga, tetangga, dan media sosial pribadi untuk menawarkan barang dagangan.
Menurut Evi, pola pemasaran tersebut membuat jangkauan pasar produk lokal menjadi terbatas. Padahal, banyak produk UMKM di Sidoharjo memiliki potensi untuk dipasarkan lebih luas melalui platform digital.
“Hingga sekarang pemasarannya masih terbatas di lingkungan sekitar. Banyak ibu-ibu menawarkan produk hanya lewat status media sosial,” kata Evi.
Ia menilai pelatihan digital marketing menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk mulai percaya diri memasarkan produk secara online. Program digitalisasi UMKM dinilai sudah lama dinantikan warga, terutama oleh pelaku usaha rumahan yang ingin meningkatkan penjualan.
Evi juga mengakui sebagian warga masih merasa ragu menggunakan marketplace karena belum terbiasa dengan sistem transaksi online. Selain itu, keterbatasan kemampuan teknologi menjadi tantangan yang masih dihadapi pelaku UMKM di tingkat desa.
Marketplace Dinilai Buka Peluang Pasar Lebih Luas
Pemanfaatan marketplace kini menjadi salah satu strategi penting dalam pengembangan UMKM nasional. Platform digital memungkinkan pelaku usaha menjangkau konsumen lintas daerah bahkan lintas provinsi tanpa biaya operasional besar.
Selain memperluas pasar, pemasaran online juga membantu UMKM membangun identitas merek dan meningkatkan kepercayaan konsumen melalui ulasan serta tampilan produk yang lebih profesional.
Dalam beberapa tahun terakhir, transformasi digital UMKM terus menjadi fokus pemerintah pusat maupun daerah. Digitalisasi dinilai mampu meningkatkan daya tahan usaha kecil di tengah persaingan bisnis dan perubahan perilaku konsumen.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, jutaan UMKM di Indonesia mulai masuk ke ekosistem digital dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pelaku usaha di daerah masih membutuhkan pendampingan agar mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.
Karena itu, pelatihan seperti yang dilakukan di Tepus dinilai penting untuk mempercepat pemerataan digitalisasi ekonomi hingga ke tingkat desa.
Digitalisasi UMKM Jadi Peluang Penguatan Ekonomi Lokal
Pelaku usaha di Sidoharjo mayoritas bergerak di sektor makanan olahan, kerajinan, dan produk rumahan. Dengan dukungan pemasaran digital, produk-produk tersebut berpeluang menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk wisatawan dan pasar luar daerah.
Disdagnaker Gunungkidul berharap program pelatihan digital marketing dapat menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem UMKM digital yang lebih kuat di wilayah Gunungkidul.
Selain meningkatkan penjualan, digitalisasi juga diharapkan mampu membuka peluang kerja baru dan memperkuat ekonomi masyarakat desa. Ke depan, pemerintah daerah berencana terus memperluas program pelatihan serupa agar semakin banyak pelaku UMKM mampu beradaptasi dengan perkembangan perdagangan digital.
Transformasi digital UMKM dinilai bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar usaha lokal tetap bertahan dan berkembang di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat. Dengan dukungan pelatihan dan pendampingan yang tepat, pelaku usaha kecil di daerah memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di pasar digital nasional.
Baca Juga “Aturan e-Commerce Bakal Direvisi Imbas Ongkir Dibebankan ke Penjual“
