Mon. Aug 24th, 2026
Teknologi Digital

UMKM Pasar Tradisional Manfaatkan Teknologi Digital untuk Perluas Pasar

Perkembangan e-commerce, media sosial, pembayaran digital, dan layanan pengiriman mendorong pedagang pasar tradisional beradaptasi dengan pola belanja baru. Pelaku usaha kecil mulai menggabungkan penjualan langsung dengan kanal online untuk menjangkau konsumen di luar pasar.

Baca Juga “BPS Ungkap Alasan Usaha Online Tetap Didata dalam Sensus Ekonomi 2026

Perubahan tersebut terlihat di Tra Vinh, Vietnam. Sejumlah pedagang hasil laut, produk pertanian, dan makanan ringan menggunakan media sosial untuk menerima pesanan setelah aktivitas perdagangan di pasar selesai.

Model penjualan ini memungkinkan pedagang mempertahankan hubungan dengan pelanggan sekaligus membuka akses menuju konsumen yang tidak selalu dapat datang langsung ke pasar.

Pedagang Hasil Laut Tambah Penjualan Lewat Media Sosial

Luu Ngoc Lien, pedagang hasil laut di Tra Vinh, menjual lebih dari 100 kilogram ikan dan udang setiap hari melalui pasar. Setelah pasar tutup, keluarganya tetap menerima pesanan melalui Facebook.

Pesanan online tersebut menambah sekitar 10 hingga 20 kilogram hasil laut yang terjual setiap hari. Pelanggan memesan melalui telepon atau media sosial, kemudian keluarga Lien menyiapkan produk dan mengirimkannya ke rumah.

Menurut Lien, kanal online membantu menjangkau pelanggan yang memiliki keterbatasan untuk bepergian. Kelompok tersebut antara lain pensiunan dan konsumen yang merasa kurang nyaman berbelanja langsung di pasar.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi tidak selalu membutuhkan platform perdagangan yang kompleks. Bagi pedagang kecil, media sosial sudah dapat berfungsi sebagai etalase produk sekaligus saluran komunikasi dengan pelanggan.

Toko Produk Pertanian Gabungkan Pesanan Online dan Layanan Belanja

Le Ngoc Minh, pemilik toko produk pertanian aman di Tra Vinh, telah menerima pesanan online selama sekitar lima tahun. Pelanggannya mencakup pejabat, pegawai negeri, guru, dan pemilik usaha.

Toko tersebut menerima sekitar 10 pesanan online setiap hari. Nilai penjualan dari pesanan tersebut mencapai sekitar 3 juta hingga 4 juta dong Vietnam per hari.

Selain menjual sayuran dan buah, toko Minh menyediakan layanan bantuan belanja bahan makanan. Pelanggan dapat meminta toko membeli bahan segar tambahan sesuai kebutuhan mereka.

Setelah pesanan selesai disiapkan, toko mengirimkannya ke titik pengambilan di kantor pemerintah dan sekolah. Cara tersebut memudahkan pelanggan menerima barang tanpa harus datang ke pasar.

Secara keseluruhan, toko mempertahankan volume penjualan sekitar satu ton buah dan sayuran per hari. Penjualan online menjadi salah satu saluran yang relatif stabil dalam mendukung aktivitas bisnis.

Operasional toko juga menciptakan pekerjaan musiman bagi sekitar delapan pekerja. Mereka menangani persiapan produk, pengemasan, dan pengiriman pesanan kepada konsumen.

Usaha Makanan Ringan Perluas Distribusi Melalui Pesanan Digital

Transformasi serupa terjadi pada usaha makanan ringan milik Tran Thi Diem di Long Duc. Keluarganya telah menjalankan bisnis tersebut selama lebih dari satu dekade.

Usaha tersebut menawarkan sekitar lima hingga tujuh jenis makanan setiap hari. Produknya antara lain banh tet, makanan berbahan singkong dan pisang, minuman, nasi ketan, serta hidangan manis.

Pesanan online disesuaikan dengan permintaan konsumen. Setelah menerima pesanan, pekerja mengelompokkan produk berdasarkan rute pengiriman sebelum menyerahkannya kepada kurir.

Model tersebut membantu usaha kecil menghubungkan produksi dengan permintaan secara lebih fleksibel. Pedagang dapat menyiapkan produk berdasarkan pesanan sehingga distribusi tidak sepenuhnya bergantung pada kunjungan konsumen ke pasar.

Infrastruktur Pasar Mendorong Modernisasi Perdagangan

Digitalisasi berjalan bersamaan dengan pengembangan infrastruktur perdagangan di Tra Vinh. Menurut Pham Phuoc Trai, Wakil Direktur Departemen Perindustrian dan Perdagangan, sebanyak 14 pasar ditingkatkan dan direnovasi pada 2025.

Investasi untuk proyek tersebut mencapai lebih dari 9,7 miliar dong Vietnam. Pemerintah menyediakan lebih dari 5,6 miliar dong, sedangkan sekitar 4,1 miliar dong berasal dari pelaku usaha, koperasi, dan unit layanan publik.

Tra Vinh memiliki 401 pasar yang terdiri atas tujuh pasar Kelas 1, 41 pasar Kelas 2, dan 287 pasar Kelas 3. Terdapat pula 66 pasar yang belum memenuhi kriteria klasifikasi.

Ekosistem distribusi modern juga berkembang melalui 16 supermarket, enam pusat perbelanjaan, dan 179 toko serba ada. Kehadiran berbagai kanal tersebut memberi lebih banyak pilihan bagi produsen dan pedagang untuk mendistribusikan barang.

Menurut Trai, modernisasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik. Pedagang kecil mulai menggunakan pembayaran elektronik, menerima pesanan online, dan menggabungkan transaksi digital dengan penjualan tatap muka.

Produk Lokal dan OCOP Mendapat Kanal Pasar Baru

Digitalisasi juga memberikan peluang bagi produk khas daerah dan produk OCOP untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Pedagang dapat memperkenalkan produk melalui media sosial, marketplace, maupun siaran langsung.

Pada paruh pertama tahun tersebut, Tra Vinh mengakui 10 produk tambahan sebagai produk OCOP. Jumlah produk OCOP yang telah diakui mencapai 1.147 produk dari 646 entitas.

Dari jumlah tersebut, 973 produk masih memiliki status pengakuan yang berlaku. Provinsi tersebut juga memperoleh pengakuan nasional untuk dua produk OCOP bintang lima tambahan.

Dengan tambahan tersebut, jumlah produk OCOP bintang lima di tingkat nasional mencapai 15 produk. Data tersebut menunjukkan besarnya portofolio produk lokal yang berpotensi masuk ke kanal distribusi modern.

Livestreaming Mulai Mendorong Transaksi Produk Lokal

Siaran langsung menjadi salah satu kanal baru untuk memperkenalkan produk lokal kepada konsumen. Kegiatan promosi dan penjualan melalui livestreaming di Tra Vinh menghasilkan 227 pesanan.

Nilai transaksi dari kegiatan tersebut mencapai lebih dari 22 juta dong Vietnam. Hasil ini menunjukkan bahwa penjualan berbasis video memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.

Kanal livestreaming dapat memberikan keuntungan bagi produk yang membutuhkan penjelasan visual. Pedagang dapat menunjukkan kondisi produk, menjelaskan cara penggunaan, serta menjawab pertanyaan konsumen secara langsung.

Pendekatan tersebut juga dapat membantu produk khas daerah membangun cerita dan identitas. Konsumen tidak hanya melihat harga, tetapi dapat memperoleh informasi mengenai produk dan asal-usulnya.

Pedagang Mulai Beralih dari Kios Fisik ke Toko Digital

Perubahan pola perdagangan tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi tidak selalu menggantikan pasar tradisional. Sebaliknya, teknologi dapat memperluas fungsi kios fisik melalui kanal penjualan tambahan.

Pedagang tetap menggunakan pasar untuk berinteraksi dengan pelanggan dan menjual produk secara langsung. Pada saat yang sama, mereka memanfaatkan media sosial untuk menerima pesanan dan pembayaran elektronik untuk menyederhanakan transaksi.

Layanan pengiriman kemudian menghubungkan toko dengan pelanggan yang berada di luar jangkauan pasar. Rangkaian tersebut membentuk model perdagangan hibrida yang menggabungkan pengalaman belanja fisik dan digital.

Bagi usaha kecil, pendekatan ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada jumlah pengunjung pasar. Pelaku usaha memiliki peluang mempertahankan penjualan ketika konsumen memilih berbelanja dari rumah.

Digitalisasi Membuka Ruang Pertumbuhan bagi Usaha Kecil

Pengalaman para pedagang di Tra Vinh menunjukkan bahwa adopsi teknologi dapat dimulai dari kebutuhan bisnis yang sederhana. Media sosial, pembayaran elektronik, dan layanan pengiriman sudah mampu menciptakan saluran penjualan tambahan.

Baca Juga “Dengan ratusan toko online baru yang dibuka setiap hari, apa saja yang perlu diperhatikan oleh para penjual terkait pajak?

By setnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *