Dari Produksi 20 Pasang Sandal, Fitri Bangun Bisnis TATAG hingga Menjangkau Pasar Online dan Ritel Nasional
Berawal dari produksi sekitar 20 pasang sandal pada akhir 2019, Fitri berhasil mengembangkan usaha kecilnya menjadi brand lokal yang dikenal di berbagai daerah. Melalui merek sandal TATAG, perempuan asal Yogyakarta ini memanfaatkan pemasaran digital dan jaringan ritel untuk memperluas pasar hingga ke luar Pulau Jawa.
Perjalanan bisnis tersebut menunjukkan bagaimana pelaku usaha mikro dapat bertumbuh melalui kombinasi inovasi produk, strategi pemasaran digital, dan pendampingan bisnis yang tepat. Saat ini, produk TATAG tidak hanya dipasarkan secara online, tetapi juga tersedia di sejumlah toko oleh-oleh ternama di Yogyakarta.
baca juga”Omzet Petani Kemangi Jogja Melonjak Berkat Digital Marketing“
Strategi Digital Jadi Fondasi Pertumbuhan Bisnis TATAG
Fitri mulai menekuni bisnis sandal secara lebih serius pada 2020. Pada masa awal, kapasitas produksi masih terbatas dan pemasaran dilakukan secara sederhana. Namun, ia melihat peluang besar melalui kanal digital yang mampu menjangkau konsumen lebih luas.
Website sandalwudhu.net menjadi sarana utama untuk membangun kredibilitas usaha. Sementara itu, Instagram dan TikTok dimanfaatkan sebagai etalase digital untuk memperkenalkan produk kepada calon pelanggan dari berbagai daerah.
Menurut Fitri, kehadiran website membantu meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperluas jangkauan pemasaran hingga ke seluruh Indonesia. Sejak awal, ia juga memilih menyasar pasar komunitas dan institusi dibandingkan hanya berfokus pada penjualan satuan.
Meski promosi dilakukan secara digital, sebagian besar transaksi tetap berlanjut melalui WhatsApp. Kanal komunikasi ini dinilai lebih efektif untuk menjawab pertanyaan pelanggan dan mempercepat proses penjualan.
Produk Sandal Bernuansa Budaya Jadi Pembeda di Pasar
Seiring perkembangan usaha, TATAG menghadirkan tiga kategori produk utama, yakni sandal wudu, sandal custom, dan sandal aksara Jawa.
Salah satu produk yang menjadi ciri khas adalah sandal aksara Jawa. Produk ini mengangkat unsur budaya lokal Yogyakarta melalui penggunaan aksara Jawa sebagai identitas desain. Selain berfungsi sebagai alas kaki, sandal tersebut juga menawarkan nilai edukasi dan pelestarian budaya.
Konsep tersebut menjadi pembeda di tengah persaingan industri sandal yang semakin ketat. Produk lokal dengan sentuhan budaya dinilai memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh khas daerah.
Tembus Jaringan Ritel dan Toko Oleh-Oleh di Yogyakarta
Keberhasilan pemasaran digital kemudian diperkuat dengan masuknya produk TATAG ke berbagai jaringan ritel dan pusat oleh-oleh di Yogyakarta.
Produk TATAG kini dapat ditemukan di sejumlah lokasi penjualan, seperti Krisna, Hamzah Batik, Raminten, Yudistira, hingga area penjualan di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).
Kehadiran di kanal offline tersebut memperluas akses konsumen terhadap produk TATAG. Tidak hanya wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, pelanggan dari berbagai daerah juga semakin mudah mengenal dan membeli produk tersebut.
Kombinasi strategi online dan offline membuat pasar TATAG berkembang hingga menjangkau wilayah Kalimantan, Sumatra, dan berbagai daerah lain di Indonesia. Segmen pelanggannya pun semakin beragam, mulai dari sekolah Islam terpadu, perusahaan, agen perjalanan, hingga pusat oleh-oleh.
BRI Incubator Membantu Fitri Memahami Perilaku Konsumen
Perkembangan bisnis TATAG turut didukung oleh partisipasi Fitri dalam program BRI Incubator yang dijalankan melalui Rumah BUMN BRI Yogyakarta.
Fitri mengaku memperoleh banyak wawasan baru terkait pengelolaan usaha, terutama dalam memahami kebutuhan pelanggan. Ia menyadari bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi yang baik dengan konsumen.
“Bisnis itu ternyata enggak cuma getok tular atau produknya bagus aja. Cara ngobrol ke pelanggan juga penting,” ujar Fitri.
Salah satu materi yang paling bermanfaat baginya adalah teknik komunikasi penjualan dan strategi closing. Pengetahuan tersebut langsung diterapkan dalam aktivitas pemasaran sehari-hari karena sebagian besar transaksi TATAG dilakukan secara online.
Ia juga mempelajari cara menawarkan produk premium secara lebih efektif serta meningkatkan nilai pembelian pelanggan tanpa memberikan kesan memaksa.
Selain itu, Fitri kini lebih memperhatikan pendekatan saat melakukan tindak lanjut pembayaran kepada pelanggan. Menurutnya, cara komunikasi yang tepat dapat memengaruhi kenyamanan konsumen dan meningkatkan peluang transaksi berhasil diselesaikan.
Filosofi Nama TATAG Menjadi Pegangan dalam Berbisnis
Nama TATAG diambil dari filosofi Jawa “sopo sing tatag lan teteg bakal tutug”, yang memiliki makna bahwa seseorang yang teguh dan konsisten akan mencapai tujuan yang diinginkan.
Filosofi tersebut menjadi prinsip yang terus dipegang Fitri dalam menjalankan usahanya. Ia memilih fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan dibandingkan mengejar target besar dalam waktu singkat.
Menurut Fitri, perkembangan bisnis tidak selalu harus berlangsung cepat. Yang terpenting adalah menjaga konsistensi dan terus bergerak maju meski langkah yang diambil terkesan kecil.
Saat ini, omzet usaha TATAG berkisar antara Rp5 juta hingga Rp20 juta per bulan, tergantung pada musim penjualan dan permintaan pasar. Meski demikian, Fitri mengaku masih terus belajar dan mencari inovasi baru untuk mempertahankan daya saing usahanya.
BRI Incubator Perkuat Kapasitas UMKM agar Naik Kelas
BRI Incubator merupakan salah satu program pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dijalankan di bawah Rumah BUMN BRI Yogyakarta. Program ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan UMKM yang didukung Kementerian BUMN.
Berbeda dengan pelatihan umum, BRI Incubator menerapkan sistem kurasi sehingga hanya UMKM terpilih yang dapat mengikuti program tersebut. Dalam setiap periode, sekitar 20 pelaku usaha mendapatkan pendampingan intensif selama satu hingga dua bulan.
Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta, Fiera Dwi Hapsari, menjelaskan bahwa peserta mendapatkan materi yang lebih mendalam, mulai dari strategi bisnis, pemasaran, hingga persiapan ekspansi usaha.
Selain pelatihan, peserta juga dievaluasi melalui sistem pemeringkatan Link UMKM untuk mengukur perkembangan usaha setelah mengikuti program. Penilaian mencakup peningkatan pengetahuan, pengelolaan bisnis, dan kesiapan usaha untuk berkembang lebih jauh.
Melalui program tersebut, Rumah BUMN BRI Yogyakarta tidak hanya berperan sebagai penyelenggara pelatihan, tetapi juga membuka akses peserta terhadap berbagai program lanjutan, termasuk legalitas usaha, pendampingan dari instansi terkait, promosi produk, hingga kesempatan mengikuti pameran.
Kisah Fitri menunjukkan bahwa usaha kecil dapat berkembang menjadi bisnis yang memiliki jangkauan pasar luas ketika didukung strategi pemasaran yang tepat, inovasi produk yang relevan, dan kemauan untuk terus belajar. Dengan fondasi tersebut, TATAG berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu produk sandal lokal Yogyakarta yang mampu bersaing di pasar nasional.
baca juga”Manfaatkan QRIS BRI, Usaha Buah Segar Lotis Gerobak di Sleman Ini Sukses Naik Kelas“
